Pendidikan Karakter Berbasis Kisah Nabi Muhammad Saw
Kondisi moralitas generasi muda bangsa Indonesia pada era milenial ini sangatlah memperhatikan, dimana nilai-nilai luhur budaya bangsa sedikit-demi sedikit mulai hilang, Kenakalan remaja terjadi dimana-mana, tauran antar pelajar tak jarang terjadi, bahkan sebagian besar tindakan kriminalitas dilakukan oleh kaum remaja. Hal ini karena ketidaksiapan pemuda utuk menghadapi era globalisasi terutama pada bidang budaya sehingga mereka tidak memiliki filter untuk memfilterasi budaya yang masuk, akibatnya mereka menerima semua budaya asing baik yang buruk, merusak dan sebagainya.
Dalam hal ini tentunya kita tidak apat menempatkan semua kesalahan pada kaum remaja seutuhnya, untuk menyikapi problematika seperti ini kita harus melihat dari sisitim kaderisasi moral remaja, yaitu dari segi sisitim pendidikan. Sistim pendidikan diindonesia sekarang ini jauh lebih mengutamakan nilai pengetahuan intelektual daripada pendidikan moral atau karakter, hal ini dapat kia lihat dari target-target acuan hasil pendidikan dari masing-masing lembaga pendidikan, sebagian besar diantaranya lebih mengacu pada hasil nilai intelektual.
Untuk mengatasi problematika merosotnya moral generasi bangsa, sudah seharusnya kita memperbaiki sistim pendidikan dengan pendidikan moral dan karakter disemua lini pendidikan, baik formal, non formal, lingkungan, lebih-lebih di lingkungan keluarga, karena sebagian besar waktu dihabiskan di lingkungan keluarga terutama pasa masa anak-anak, lingkungan keluarga akan menentukan pola pikir anak sejak dini, sehingga alangkah lebih utama pendidikan karakter sangat dinperketat pada lingkungan ini.
Menurut kaimuddin (2014) pendidikan karakter merupakan usaha sadar terencana melalui lingkungan pembelajaran untuk tumbuh kembangnya potensi yang memiliki watak kepribadian baik, bermoral, berahlak dan ber-efek positif konstruktif pada alam dan masyarakat. Pendidikan karakter merupakan intisari atau sendi pendidikan, keberhasilan dunia pendidikan ditentukan dari out put karakter peserta didik.
Tujuan pendidikan karakter ialah terdapat pada pasal 1 UU SISDIKNAS Tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, keperibadian, dan ahlak mulia. Amanah Undang-undang Sisdiknas bermaksud bahwa pendidikan nasional tidak hanya membentuk insan yang cerdas secara intelektual tetapi juga berkarakter dan bebudi pekerti yang luhur, sehingga nanti akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafaskan nilai luhu bangsa serta agama.
Untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan karakter haruslah menggunakan sistem atau metode yang tepat, banyak sekali metode yang dapat digunakan, salah satu metode yang baik dalam pendidikan karakter adalah menggunakan metode kisah-kisah dalam al-qur’an, kenapa menggunakan metode kisah-kisah dalam al-qur’an ?, karena dengan menggunakan metode menceritakan kisah-kisah maka secara tidak langsung timbul keinginan pada peserta didik untuk meneladani atau mengikuti jejeak tokoh yang ada dalam cerita tersebut, pada metode ini kita menggunakan metode kisah dalam al-qur’an dikarenakan cerita yang dimuat banyak mengandung nilai-nilai moralitas yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang terkenal sopan dan santun.
Model-model pendidikan karakter dalam al-qur’an menurut Dr. Ulil Amri Syafri dalam bukunya yang berjudul pendidikan karakter berbasis al-qur’an ialah:
Model Perintah, model pendidikan perintah dalam Al-qur’an banyak mengungkapkan hal-hal yang terkait pembinaan akhlak terhadap Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, akhlak pribadi dan keluarga, akhlak bermuamalah sesama muslim, dan sebagainya.
Model Larangan, model pendidikan larangan dalam al-qur’an biasanya berbentuk larangan untuk berbuat kezaliman atau kerusakan dimuka bumi.
Model Targhib (Motivasi), targhib kerap diartikan dengan kalimat yang melahirkan keinginan kuat (bahkan sampai pada tingkat rindu), membawa seseorang tergerak untuk menggerakan amalan. Targhib menjadi model pendidikan yang memberi efek motivasi untuk beramal dan mempercayai sesuatu yardijanjikan.
Model Tarhib, Dalam Al-qur’an, tarhib adalah upaya menakut-nakuti manusia agar menjauhi dan meninggalkan sesuatu perbuatan. Landasan dasarnya adalah ancaman, hukuman, sanksi, dimana hal tersebut adalah penjelasan sanksi dari konsekuensi meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan dati ajaran agama.
Model kisah, kisah merupakan sarana yang mudah untuk mendidik manusia. Model ini sangat banyak dijumpai dalam al-qur’an ,bahkan kisah-kisah dalam al-qur’an sudah menjadi kisah-kisah populer dalam dunia pendidikan, kisah yang diungkapkan dalam al-qur’an ini mengiringi beberapa aspekpendidikan, diantaranya adalah akhlak, karakter atau Budi pekerti.
Model Dialog dan Debat, model pendidikan dalam al-qur’an juga menggunakan model dialog fan debat dengan beberapa variasi yang Indah, sehingga pembaca menikmati hal tersebut.
Model Pembiasaan, untuk mencapai tujuan pendidikan karakter kepada taraf yang baik, dalam artian terjadi keseimbangan antara ilmu dan amal, maka al-qur’an al-qur’an juga memberikan pembiasaan dan praktik keilmuan.
Model Qudwah (teladan), salah satu aspek dalam mewujudkan integrasi iman, ilmu, dan akhlak adalah dengan adanya figur utama yang menunjang hal tersebut, dialah sang pendidik yang menjadi sentral pendidikan, sehingga bisa kita katakan qudawah adalah aspek terpenting dati proses pendidikan.
Pada pendidikan karakter baerbasis kisah dibutuhkan sosok atau figur yang tepat dan dapat menginspirasi serta membawa perubahan besar pada akhlak, budu pekerti, yang dapat diteladani dan dicontoh, dan itu semua ada pada al-qur’an, dimana kisah-kisah yang ada pada al-qur’an memua ttentang kisah-kisah ummat terdahulu, kisah para nabi dan rasul, serta kisah orang-orang soleh selain nabi, yang kesemuanya mengandung banyak nilai moral yang dapat dicontoh bagi kau setelahnya serta banyak menggunakan ibrah yang dapat dipetik.
Wallahualam bissawaf.
Sumber:https://www.kompasiana.com/intan51194/6006b49fd541df04be0bf082/pendidikan-karakter-berbasis-kisah-nabi-muhammad-saw
Komentar
Posting Komentar